Senin, 26 Mei 2008

Mataair di Airmata

Sumber: http://www.amanah.or.id/ Airmata, Sebuah Mata Air di Kupang

Laporan: Darso Ariel B

Bila ke Kupang, sempatkan diri bertandang ke sebuah wilayah bernama Airmata. Di sini, ada airmata untuk sebuah perjuangan mempertahankan identitas.

KUPANG. Jika "jalan-jalan" adalah tujuan anda berkunjung ke kota Kupang, mungkin laut memberikan kenikmatan yang bisa dibanggakan, kendati tidak semua nuansa laut bisa dinikmati, misalnya pasir putih atau hidangan khas laut. Mungkin karena orang di Kupang bukan penikmat ikan sehingga tidak ditemui promosi hidangan laut yang atraktif.

Pada beberapa tempat di kota ini sengaja dibangun tempat duduk-duduk seperti balkon yang menghadap ke laut. Di sini biasa orang menghabiskan waktu menunggu terbenam matahari. Sedangkan pantai Lasiana yang sering disebut sebagai lokasi wisata di Kupang, ternyata tidak terpelihara.

Malam di Kupang adalah sepi. Menjelang pukul lima sore orang sudah bergegas pulang ke rumah, karena pukul tujuh malam tak ada lagi angkutan kota yang beroperasi. Transportasi dalam kota mulai diambil alih tukang ojek. Masih beruntung tarifnya tidak terlalu mahal. Oebufu - Oesapa yang berjarak belasan kilo meter cukup dibayar lima ribu rupiah.

Tapi bagi Anda yang berpenyakit jantung tidak cocok tinggal di Kupang. Ini karena semua angkot di kota ini berciri yang sangat aneh: memutar musik keras-keras dengan volume bas tinggi.

Kupang sering disebut orang sebagai Kota Karang, Ini bukan perlambang apa-apa, tapi nyatanya demikian. Dari arah laut kota ini terlihat bertengger di atas batu karang yang besar, selain sebagian kota lainnya berada di atas bukit berbatu.

Mata Air Airmata

Dibanding wilayah Nusantara lainnya, Islam terbilang agak terlambat masuk ke wilayah ini, Karena itu tidak heran kalau umat Islam di kota ini terbilang minoritas. Meski demikian, bukan berarti di Kota Kupang sama sekali tidak ada obyek yang pantas untuk diziarahi.

Sebuah wilayah di tengah Kota Kupang bernama Airmata, bisa dipastikan menjadi titik sentral obyek ziarah di sini. Dari namanya, sudah bisa dipastikan kalau wilayah ini memiliki identitas Melayu dan berbeda dari seluruh nama wilayah di kota ini yang biasanya berawalan oe (air), seperti Oeba, Oesapa, Oebufu, Oenlain, Oenesu dan masih banyak lagi oe-oe lainnya.

Bagi masyarakat Airmata, nama wilayah itu sendiri memiliki dua makna kebenaran. Pertama, dari wilayah inilah timbul mata air yang mengalir sungai jernih membelah Kota Kupang.

Makna kedua, di tempat inilah banyak airmata yang tumpari akibat kekejaman penjajah, Setidaknya ada tiga ulama yang ditangkap dan diasingkan Belanda hingga mereka wafat dan dimakamkan di sini, yakni Kiyai Arsyad asal Banten, Dipati Amir Bahrain asal Bangka dan Sultan Dompu asal Bsma. Makam para ulama itu terletak berdekatan dalam sebuah kompleks yang dikenal dengan nama Kuburan Batu Kadera,

Menurut cerita sesepuh Airmata, H. Imam Birando bin Taher, Kiyai Arsyad paling banyak berperan dalam pengembangan Islam di Kupang. Sebelum ditangkap dan diasingkan, Kiyai Arsyad memimpin perlawanan masyarakat Cilegon, Banten, terhadap Belanda (1926).

Masih menurut cerita H. Imam Birando, sebelum menetap di Airmata, Kiyai Arsyad mula-mula tinggal di Oeba, sebuah kawasan pantai di belahan utara Kupang. Di sini Kiyai Arsyad mendirikan masjid. Baru beberapa tahun, masjid itu digusur Belanda dengan dalih akan dijadikan kompleks perumahan pejabat.

Kiyai Arsyad dan pengikutnya kemudian bergeser ke arah selatan kota, tepatnya di Funtein sekarang. Di sini Kiyai Arsyad dan pengikutnya kembali mendirikan masjid. Sayangnya, Belanda kembali menggusur masjid dan komunitas Kiyai Arsyad dengan alasan akan mendirikan perkantoran. Kantor Bupati Kupang sekarang diyakini sebagai lokasi berdirinya masjid Kiyai Arsyad.

Setelah tergusur dari Funtein, Kiyai Arsyad beserta pengikutnya memindahkan komunitasnya ke arah selatan, yakni Airmata sekarang dan tidak lagi digusur karena Belanda terlanjur angkat kaki dari Nusantara.

Orang kedua yang berjasa dalam pengembangan Islam di Kupang, khususnya di Airmata adalah Sya'ban bin Sanga, tokoh asal Solor, Flores Timur. Untuk kepentingan masjid, Sya'ban mewakafkan sebidang tanah yang dimilikinya. Tanah wakaf Sya'ban ini oleh Kiyai Arsyad dibangun masjid yang kemudian diberi nama Baitul Qadim (rumah pertama).

Sya'ban bin Sanga pun mewakafkan anak-anaknya untuk kepentingan dakwah. Tiga puteranya, yakni Birando, Abdullah dan Bofid. Birando diwakafkan sebagai imam, Abdullah sebagai khatib dan Bofid sebagai muazzin. Tradisi mewakafkan diri pada masjid ini terus berlangsung hingga cucu-cucu Sya'ban. H. Imam Birando bin Taher yang masih memegang jabatan imam sekarang adalah cicit Sya'ban.

Mauludan yang Khas

Berziarah di Kupang jangan lewatkan masjid Al Fatah di wilayah Kampung Solor. Masjid yang dibangun pada awal Tahun 1900 ini masih mengabadikan mihrabnya yang sangat khas. Bila diamati, mihrab masjid ini menyimpan kemiripan dengan masjid para sultan di wilayah Nusantara lainnya. Sebuah bedug besar atau rekal (meja kecil tempat meletakkan Quran) yang ada di masjid ini seperti mengisyaratkan bahwa kebudayaan Islam di Kupang sudah cukup tua.

Sama seperti Airmata, Kampung Solor juga didiami oleh komunitas Muslim. Bedanya, komunitas Muslim di sini lebih didominasi oleh masyarakat asaf Solor, Flores Timur yang dalam sejarah juga disebutkan memiliki tradisi Islam setua Islam di Nusantara.

Mengunjungi kedua masjid ini akan lebih mengesankan bila bersamaan dengan , saat perayaan Maulid Nabi, 12 Rabiul Awal. Berbeda dengan daerah lain, perayaan Maulid Nabi di Kupang, terutama di kedua masjid ini memiliki tradisi yang sangat khas. Acara pokok mauludan adalah berzikir, yakni pembacaan kitab Barjanzi yang dilatunkan dengan irama tertentu serta diiringi oleh tabuhan rebana. Sepintas, seni berzikir ini hampir memiliki kesamaan dengan seni ruddat yang banyak dijumpai di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Peringatan Maulid Nabi di sini juga ditandai dengan aneka hidangan yang dihiasi aneka warna. Ada nasi merah dan kuning, ada telur ayam rebus, juga pisang rebus yang juga diberi aneka warna dan dihidangkan dalam nampan bersama nasi tadi. Lebih khas lagi, ada kelapa muda diukir aneka macam yang ditancapi kembang-kembang plastik. Semua aneka makanan, kelapa dan bunga itu selepas waktu Isya diarak beramai-ramai menuju masjid dengan lantunan Salawat Badar. Prosesi ini sungguh mengharukan.

Darso Ariel B

SEBAGIAN TRIPANG ASAL ROTE




Minggu, 25 Mei 2008

Rote-sayang, Rote-ku Malang

Rote, Komunitas Muslim dan Australia

Gersang dan tandus. Itulah wajah Pulau Rote (Kabupaten Rote Ndao). Rote selama ini dianalogikan sebagai pulau terselatan dari Indonesia. Tentu saja itu benar jika dilihat dari perspektif atau kategori “pulau berpenghuni”. Sebenarnya pulau paling selatan adalah Pulau Dhana, pulau terluar dekat Rote, tetapi tidak berpenghuni berada di ujung paling selatan Indonesia.

Pulau Rote (hanya) seluas 1.214,3 kilometer persegi dan dihuni oleh 102.000 jiwa. Rote sesungguhnya terdiri dari 96 pulau, hanya enam yang berpenghuni sedangkan 90 dihuni oleh monyet dan rusa. Rote baru mendapat “gelar” sebagai kabupaten melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002.

Sama seperti NTT pada umumnya, masalah utama Rote adalah indeks kemiskinan manusia yang tinggi mencapai 27,50 persen. Selain itu, 30,80 persen penduduk Rote juga menghadapi akses sarana kesehatan tak memadai dan balita kurang gizi mencapai 41,80 persen.

Secara administrasi Rote terdiri dari 6 Kecamatan, yakni Rote Barat Daya (17 desa), Rote Barat Laut (15 desa dan 1 kelurahan), Lobalain (11 desa dan 3 kelurahan), Rote Tengah (11 desa dan 1 kelurahan), Pantai Baru (10 desa dan 1 kelurahan), dan Rote Timur (9 desa dan 1 kelurahan).

Meski gersang, tandus dan miskin, pantai Rote amat bersih dan punya pesona kombinasi pecahan gulungan ombak yang istimewa. Tempat ini merupakan surga tropis yang tak pernah tersentuh dan “tercemar” oleh turisme. Ada tiga pantai di Rote yang terbaik untuk surfing (selancar). Sebuah situs selancar memuji lokasi surfing di Rote itu yang sudah dikenal peselancar kelas dunia. Wisatawan asal Australia yang paling banyak menikmati surfing di pantai ini.

Dari Kupang, Rote hanya bisa dicapai dengan angkutan laut. Lalu lintas barang dan jasa umumnya mengandalkan kapal penyeberangan (feri) yang setiap hari melayani rute Kupang-Rote (di Kec. Pantai Baru) sekitar empat jam. Rute lain ditempuh dengan perahu motor, dari pelabuhan rakyat (Pelra), seperti Papela (Kec. Rote Timur), Oelaba (Kec. Rote Barat Laut), Batutua (Kec. Rote Barat Daya), dan Ndao (Pulau Ndao).

Ibu Kota Kabupaten Rote Ndao adalah Ba’a. Kota ini tak lebih dari kota kecamatan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan daerah lain di Indonesia. Sampai di Ba’a, ketika mengayunkan kaki meninggalkan dermaga, debu beterbangan di sepanjang jalan yang rusak atau bopeng di banyak tempat.

Deretan belasan kios dan beberapa toko penjual barang pokok, empat warung makan, dan beberapa kantor menghiasi pusat keramaian di Jalan Pabean. Jalan ini sempit mirip lorong pasar senggol di Jawa, becek saat hujan, dan mulai sepi sejak pukul lima sore.

Kios dan warung makan tutup antara pukul 18.30-19.00. Bahkan jika ada warung makan yang buka hingga pukul 19.00, hampir pasti tidak ada makanan lagi. Hanya ada dua hotel melati di sini, tetapi kamarnya jadi sarang nyamuk. Meski sejak lima tahun lalu telah jadi ibu kota Kabupaten, Ba’a masih lebih tepat disebut kampung yang sedang mekar.

Listrik yang baru melayani 4.378 pelangan atau 17% dari populasi penduduk Rote dan lebih sering padam dari menyala. Telepon rumah tentu lebih sedikit lagi, tak lebih dari 300 rumah dan kantor pemerintahan, itupun hanya di Ba’a dan sedikit di kecamatan Rote Barat Laut. Ada kantor telekomunikasi di sini, tetapi tidak berfungsi maksimal. Ada satu warung telekomunikasi dan beberapa kios telepon untuk percakapan lokal dan interlokal. Wartel tidak menyediakan mesin faksimile, dan biasanya tutup pukul 20.00.

Telkomsel sudah beroperasi di Ba’a. Bahkan sudah dibangun stasiun penerima-pemancar di Papela dan Nemberala, pantai yang paling dikenal sebagai “surga” bagi para peselancar dunia itu.

Sarana dan prasarana dasar, seperti air, listrik, jalan raya, dan telepon, masih sangat minim dan jauh dari sentuhan pesatnya teknologi. Krisis air adalah cerita biasa jika kemarau tiba. Jika sudah kemarau, tidak ada pertolongan untuk masyarakat, mereka harus bersusah payah menempuh perjalanan satu hingga dua kilometer untuk mendapatkan air di sumur-sumur tua peninggalan Belanda. Persoalan air ini memang terjadi sejak zaman dahulu kala, susahnya bukan main. Berkali-kali masyarakat minta melalui kecamatan, juga ke kabupaten, agar kami dibantu dengan sumur bor, tetapi tidak pernah terjawab.

Selain air bersih, kesulitan terberat bagi warga Rote adalah jalan raya dan pengangkut umum. Warga di desa-desa tetap berjalan kaki sejauh lima hingga belasan kilometer menuju pasar di kecamatan yang biasanya ada sekali dalam sepekan. Saat hari pasar inilah, angkutan umum biasanya ada. Setiap hari memang ada angkutan umum, namun itupun hanya dari pelabuhan feri ke kota kecamatan, itupun tak lebih dari dua angkutan untuk masing-masing kecamatan.

Sumber pendapatan asli daerah hanya sekitar Rp 1,4 miliar per tahun, sedangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2006 berkisar Rp 130 miliar. Sangat fantasti perbandinganya.

Dari 102.000 jiwa penduduk Rote, Umat Islam (hanya) berjumlah 3.351 jiwa. Konsentrasi terbesar muslim, yakni lebih dari 2000 jiwa berada di Papela, Kec. Rote Timur. Muslim di Rote membentuk komunitas tersendiri menjadi perkampungan nelayan, yakni di Metina (Ba’a/Kec. Lobalain), Oeseli dan Batutua (Kec. Rote Barat Daya), Oelaba (Kec. Rote Barat Laut), Oenggae (Kec. Pantai Baru) dan Papela (Kec. Rote Timur). Masjid dan musholla yang dimiliki Muslim di sini hanya sembilan buah. Di Papela ada sebuah masjid jami dan sebuah masjid ghoir jami, di Pantai Baru ada sebuah musholla, di Oenggae ada sebuah masjid jami, di Metina ada sebuah masjid jami, di Ba’a, Oelaba dan Batutua masing-masing ada sebuah masjid jami dan Oeseli ada sebuah musholla.

Tiap-tiap masjid atau musholla memiliki seorag Imam yang dipilih sekali dalam lima tahun secara demokratis. Imam berfungsi sebagaimana layaknya ketua DKM di daerah lain, dia juga menjadi pemimpin nonformal dalam kampung. Imam juga sering menjadi “tempat pengadilan” ketika terjadi perselisihan antar ummat. Imam dibantu oleh beberapa staf yang bertanggungjawab pada dinamisasi masjid dan segala kegiatan keumatan dalam kampung.

Di Papela ada sebuah TK Islam yang baru dirintis. Di sini pernah dibangun sebuah madrasah namun terbengkelai karena kekurangan sarana pengelola. Di Ba’a ada sebuah TK Islam yang sudah berjalan cukup lama. Sedangkan di Oelaba ada sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang cukup “jalan di tempat”.

Ormas Islam belum ada satupun yang menyentuh muslim di Rote, demikian pula organisasi Islam lokal belum pernah berdiri di sini. Sejak dahulu partai PPP cukup mendapat dukungan, tapi belakangan PKB justru mampu membawa seorang wakilnya dukuk di DPRD kabupaten. Sejak dahulu baru tiga orang muslim yang bisa menduduki jabatan paling “bergengsi” yakni menjadi anggota DPR kabupaten. Seorang pada masa Ordebaru dari Golkar dan dua orang pada dua periode di masa Reformasi dari PKB

Hampir semua Muslim di Rote adalah pelaut. Sebagian lainnya adalah pedagang dan beberapa puluh diantaranya menjadi PNS (guru, pegawai kecamatan dan di kabupaten, rumah sakit, puskesmas) atau TNI/Polri.

Berbicara tentang Muslim di Pulau Rote adalah berbicara soal nelayan (baca : pelaut). Keuletan nelayan Rote, khususnya dari Papela dan Oelaba, sejak dahulu sudah menembus Laut Timor hingga perairan Australia. Aksi nekat para nelayan ini kerap memperkeruh hubungan Australia-Indonesia.

Antara AL Autralia dan nelayan Rote bagai kucing dan tikus. Oleh pihak otoritas Australia, para nelayan Muslim Rote ditangkap, disekap, perahunya dimusnahkan dan dipenjarakan di Darwin. Tragedi ini merupakan pengalaman kolektif sekaligus berita sehari-hari nelayan Rote.

Sejak dahulu, nelayan Rote memandang perairan antara Rote-Australia adalah sumber kehidupan. Antara Rote dan Australia banyak sekali pulau kecil. Nama pulau-pulau itu oleh nelayan disebut, seperti Pulau Pasir, Borselan, Dato, Bawa Angin, Matsohor, Matahari Menjerit, dan Pulau Tengah. Dalam peta, yang disebut Pulau Pasir tak lain adalah Ashmore Reef, yang terdiri dari tiga pulau karang. Juga tidak ada nama Borselan, tetapi disebut demikian karena nelayannya diduga sulit melafalkan nama Browse Island.

Di gugus Pulau Pasir, seperti Pulau Tengah (Midle Island), terdapat kuburan orang Madura di tepi selatan pulau, berukuran lebar 0,95 meter dan panjang 1,85 meter. Diperkirakan itu adalah kuburan nelayan dari Pulau Tonduk, Madura. Sementara Kapten Ashmore dari Inggris menemukan pulau ini pada tahun 1816, yang kemudian resmi dibakukan sepihak oleh Inggris pada tahun 1870.

Dari Rote, Pulau Pasir dapat dicapai dalam waktu 8-9 jam dengan menggunakan perahu layar atau 3-4 jam dengan perahu motor Pulau Pasir dan sekitarnya terkenal kaya akan teripang, lola, dan berbagai jenis ikan, terutama hiu untuk diambil sirip dan ekornya. Oleh karena itu, kawasan ini tak hanya jadi lahan pencarian nelayan Rote, tetapi juga dari daerah lain Indonesia, seperti Jawa Timur dan Sulawesi.

Nelayan Muslim Rote, terutama di Papela dan Oelaba, memang hidup dari hasil-hasil laut di perairan ini. Bahkan, pendapatan Kabupaten Rote sebagian besar diperoleh dari hasil tangkap nelayan itu. Setiap kali nelayan pulang melaut dan membawa hasil tangkapan, mereka dikenai retribusi. Sirip ikan hiu kecil dikenai retribusi Rp 10.000 per kilogram, yang besar bisa Rp 25.000 per kg. Sedangkan harga jual sirip ikan hiu itu berkisar Rp 250.000-Rp 1.300.000 per kg. Selain sebagai sumber penghidupan, laut di perairan itu juga menjadi kuburan massal nelayan Rote. Setiap tahun laut itu pasti menelan nelayan Rote. Ratusan orang sudah terkubur di sana.

Pemerintah Indonesia dan Australian sudah berulang kali mencari jalan keluar agar nelayan Rote tidak lagi berlayar ke sana, namun usaha itu tetap sia-sia. Belakangan pemerintah mengembangkan budidaya rumput laut. Sayangnya usaha ini kurang berkembang. Karena tidak didukung oleh regulasi yang memadai, pemerintah juga tidak menyediakan pasar yang bagus.[]

Surat Untuk Mr. Robin Betnal

Kepada Yth.

Mr. Robin Bednall

Di Australia.

Apa kabar Mr. Robin. Semoga Bapak senantiasa berada dalam keadaan baik dan sukses menjalankan tugas sehari-hari, baik untuk keluarga dan untuk negara.

Bagaimana dengan rencana kedatangan orang pengganti Pak Robin itu? Apakah sudah di Jakarta . Kalau sudah, saya ingin sekali bertemu dengan dia.

Pak Robin,

Seperti yang kita ketahui, hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia telah memasuki era baru, setelah mulai diberlakukannya perjanjian antara kedua negara pada Kamis, 7 Feberuari lalu. Perjanjian tersebut sesungguhnya sudah ditandatangani bulan November tahun 2006 di Lombok , sehingga kita kenal dengan nama Perjanjian Lombok.

Perjanjian ini selanjutnya akan menjadi justifikasi bagi kerjasama antar kedua negara di berbagai bidang, terutama bidang keamanan maritim, pertahanan, penegakkan hokum, kontraterorisme dan kesiagaan dalam situasi darurat.

Selanjutnya, dalam hubungan antara kedua negara akan selalu ada masalah yang yang bisa menimbulkan cara pandang yang berbeda. Namun, dengan adanya perjanjian ini, semua masalah yang timbul diharapkan proses penyelesaiannya dapat dilakukan dengan cara musyawarah dan semangat bertetangga yang baik.

Dalam pandangan saya, perjanjian ini tidak akan ada pengaruhnya pada persoalan nelayan dari Pulau Rote. Bagi nelayan, ada atau tidak perjanjian ini, semangat mereka untuk masuk secara illegal ke perairan Australia (Pulau Pasir dan sekitarnya) akan terus berlanjut.

Juga dalam pandangan saya, seharusnya persoalan Pulau Pasir ini sudah selesai sejak beberapa waktu lalu, saat Pemerintah Indonesia lewat Kepala Staf Angkatan Laut dan Menteri Kelautan dan Perikanan RI mengeluarkan statement, bahwa Pulau Pasir (dan pulau-pulau yang biasa dimasuki nelayan) adalah milik Australia.

Sayangnya, saat ini masih saja ada gerakan-gerakan, terutama dari LSM-LSM di Provinsi NTT yang terus berupaya “memperjuangkan” Pulau Pasir sebagai milik Indonesia, dan nelayan punya hak untuk masuk dan mencari hasil laut di sana.

LSM-LSM ini selalu “berjuang” dalam berbagai forum, mulai dari diskusi, seminar, penyuluhan, pembentukan opini di media massa sampai menerbitkan buku. Dan tidak tertutup kemungkinan, gerapan LSM-LSM ini didanai oleh oknum-oknum dalam negeri yang tentu saja punya target jangka pendek dan jangka panjang dari gerakan ini. Untuk itu, mereka perlu merangkul kalangan akademisi terutama dari Universitas Nusa Cendana di Kupang atau Universitas Udayana di Bali. Mereka juga perlu merangkul oknum nelayan untuk memperkuat gerakan mereka.

Terus terang, seperti saya ungkapkan dalam surat saya terdahulu, gerakan LSM-LSM ini sama sekali tidak menyentuh kepentingan nelayan atau membawa aspirasi mereka. Tak jarang, dalam gerakan mereka menghasilkan uang yang tidak sedikit. Sayangnya, uang itu, yang kadang mereka dapatkan dalam bentuk bantuan untuk nelayan, tidak sampai ke tangan nelayan. Mereka seperti menari di atas menara gading, sementara nelayan terus berkutat dalam permasalahan kemiskinan mereka. Oknum nelayan yang mereka rekrut juga representif. Buktinya, Pak Sadeli Ardani yang selama ini sering diajak ke berbagai forum, sama sekali tidak membawa aspirasi nelayan. Apa yang dilakukan Pak Sadeli Ardani sama sekali tidak diketahui oleh para nelayan. Dan apa hasil yang dibawa Pak Sadeli dari berbagai forum itu, hanya diketahui oleh Pak Sadeli. Nelayan sama sekali masa bodo dengan apa yang dilakukan oleh Pak Sadeli.

Pak Robin,

Kalau dicermati, gerakan LSM untuk “merebut” Pulau Pasir baru marak setelah Timor Timur lepas dari Indonesia . Ada sebuah opini yang berkembang, bahwa dengan lepasnya Timor Timur, maka Celah Timor yang kaya akan energi itu otomatis Indonesia tidak mendapat bagian. Karena itu, jika Pulau Pasir masuk dalam wilayah Indonesia , maka Indonesia juga akan mendapat jatah dari Celah Timor itu.

Jadi, sekali lagi, para LSM itu hanya menjadikan nelayan Rote sebagai entry point mereka untuk tujuan yang lebih besar tadi. Dengan demikian bukan nelayan sebagai focus utama mereka.

Oleh karena itu, Pak Robin, sama seperti surat saya terdahulu, usul saya, baiknya kita melakukan hal-hal yang bisa memalingkan para nelayan dari Pulau Pasir dan sekitarnya. Dan saya sebagai anak nelayan dari Pulau Rote dengan segala kemampuan yang saya miliki bersedia membantu teman-teman dari Australia .

Terima kasih atas perhatian dan kerjasama Pak Robin.

Darso Arief Bakuama